CS1 :
CS2 :
Berita Terbaru:

Berita

Pariwisata

Sosial Masyarakat

Tampilkan postingan dengan label berita-peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita-peristiwa. Tampilkan semua postingan

Truk Bermuatan 45 Ton Pupuk Terguling

Sabtu, 21 Januari 2012


KEBUMEN, suaramerdeka.com - Sebuah truk gandengan yang bermuatan 45 ton pupuk Ponska terguling di jalan lingkar selatan Kebumen, persisnya di sebelah barat Rumah Makan Pelangi, Jumat (20/1) dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tunggal yang terjadi sekitar pukul 24.15 tersebut.
Muhammad Suud (43), pengemudi dan satu-satunya penumpang truk bernomor polisi L 89906 US itu tidak mengalami luka yang berarti. Namun warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur tersebut masih tampak shock atas kejadian itu.
Menurut penuturan Suud, truk Nisan Diesel yang dikemudikannya berangkat dari PT Petrokimia Gresik pada Selasa (17/1) pagi. Dia mengaku beristirahat terakhir di Wates Kulonprogo sebelum melanjutkan perjalanan ke gudang pupuk Purbalingga.
"Sampai di jalan ini, tiba-tiba gandengan oleng begitu saja. Lalu saya rem namun ternyata truk malah terguling," ujar Suud kepada Suara Merdeka di lokasi kejadian.
Suud ngotot mengaku masih sadar dan tidak mengantuk saat kejadian. Dia juga mengaku cukup istirahat dab berhati-hati dalam mengemudikan truk tersebuit. Dia berdalih, jika dalam kondisi mengantuk truk langsung nyelonong tampa sempat menginjak rem.
Tergulingya truk tersebut mengakibatkan jalan lingkar selatan sedikit tersendat. Maklum meskipun gandengan belakang truk terguling hingga ke persawahan, namun bagian depan truk yang juga terguling masih di badan jalan.
Sejumlah petugas dari Satlantas Polres Kebumen tampak mengatur arus lalu lintas.

Sumber: Suara Merdeka

Tiga Avanza Kecelakaan Karambol

Selasa, 17 Januari 2012

KEBUMEN- Tiga Avanza yang masing-masing berplat AB mengalami kecelakaan karambol di Jalan Kutoarjo, Desa Kaliputih, Kecamatan Kutowinangun, Senin (16/1). Kecelakaan karambol itu juga melibatkan satu sepeda motor AD-3256-QL.
Pembonceng motor, Samini Apriani (48), warga Njetak Kidul RT 1 RW 7, Kragan, Klaten, itu kritis dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kutowinangun, Kebumen. Selain patah tulang pada kaki, korban yang dibonceng suaminya, Suprioto (52) itu juga luka parah di kepala.
Saksi mata, Sutar (42), warga Kutowinangun mengemukakan, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 08.30. Avanza AB-1335-QH melaju beriringan dengan Avanza AB-1690-RE dari arah timur. Masing-masing Avanza itu berwarna hitam.
Dari arah berlawanan datang Avanza silver AB-1338-BD. "Avanza silver itu tiba-tiba oleng dan melewati marka jalan," kata Eko Riyanto (34), warga Yogyakarta yang mengemudikan Avanza hitam AB-1335-QH itu.
Mobil Rental
Mobil rental yang dikemudikan Eko itu lantas banting setir. Namun keburu menabrak Avanza silver pada bagian belakang. Sepeda motor yang tengah melintas dari arah timur pun ikut dihantam mobil tersebut. Dan, Avanza AB-1690-RE yang dikemudikan Bardiman (40), warga Sleman itu menyeruduk dari belakang.
Mobil tersebut baru berhenti sesaat setelah menabrak bak sampah permanen di tepi jalan. Disusul kemudian Avanza silver. Dua Avanza itu ringsek pada bagian depan, sedangkan satu lagi rusak pada bagian bumper belakang hingga roda kiri belakang pecah. Sementara pembonceng motor terpental dan terjerembab di jalan beraspal.
Kejadian itu mengundang warga setempat untuk mendatangi lokasi kejadian. Mereka lantas menolong korban dan membawanya ke rumah sakit. Petugas Lantas Polres Kebumen mendatangi lokasi untuk menyelidiki kecelakaan tersebut. Selanjutnya mendatangkan mobil derek.
Tiga Avanza yang mengalami kejadian nahas itu dibawa ke Pos Lantas Kutowinangun. Para pengemudi mobil tersebut dimintai keterangan di Kantor Lantas Polres Kebumen. Kasus kecelakaan tersebut masih ditangani petugas. (K5-84)

780 Hektar Sawah Terancam Puso

Minggu, 15 Januari 2012

KEBUMEN, KOMPAS.com — Sekitar 780 hektar areal sawah di Kabupaten Kebumen terancam gagal panen (puso) akibat terendam banjir sejak pekan lalu. Bahkan, sebagian petani saat ini mulai menanam ulang karena benih padi berusia muda di sawah mereka sudah mati terendam banjir.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kebumen, genangan banjir sejak awal tahun telah merendam areal persawahan di enam kecamatan dengan total luas 780 hektar.
Wilayah yang kebanjiran, antara lain, adalah Kecamatan Petanahan seluas 13 hektar (ha), Kecamatan Kuwarasan (164 ha), Kecamatan Puring (295 ha), Kecamatan Prembun (184 ha), dan Kecamatan Bonorowo (124 ha). Luas tersebut belum termasuk wilayah lain yang dua hari terakhir mulai terendam banjir, seperti Kecamatan Adimulyo, Kutowinangun, Mirit, dan Ambal.
Wardoyo (39), Ketua Kelompok Tani Mekar Jaya Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Selasa (10/1/2012), mengatakan, tanaman cepat mati sebab usia padi saat terendam banjir masih sangat muda. Dia telah mengeluarkan modal sekitar Rp 1,5 juta untuk biaya penanaman dan benih, dari sawah seluas satu hektar yang digarapnya.
"Saya terpaksa mengganti sepertiga tanaman yang sudah mati. Jika tidak tanam ulang, modal biasanya hanya Rp 1,25 juta per hektar. Namun, walau sudah diganti, belum aman juga kalau hujan masih terus turun," katanya.
Wardoyo menyebutkan, menanam padi di lahan yang digenangi air memang bisa dua hingga tiga kali menunggu curah hujan menurun. Pertama kali tanam lebih banyak untuk spekulasi.
"Kalau curah hujan sedang, meski sawah tegenang, air cepat surut. Tanaman tidak sampai mati. Tapi kalau curah hujan tinggi, itu yang membuat petani harus tanam sampai tiga kali, bahkan pernah empat kali," ucap Rukiyat (45), petani lain di Desa Prembun, Kecamatan Prembun, yang menanami ulang separuh dari lahan seluas 3.000 meter persegi miliknya yang terendam banjir.
Petani menanam ulang padi yang mati dengan mengambil sebagian rumpun padi yang sudah mulai menghijau. Rukiyat mengaku, jika memakai semaian yang baru, masa tanam akan berbeda antara tanaman yang baru dengan tanaman yang sudah ditanam sebelumnya.
Dia berharap setelah ditanami ulang sawahnya tidak terendam banjir lagi. Selain menambah biaya benih, musim panen juga akan tertunda. "Mau bagaimana lagi. Kalau tidak ditanami sayang juga, tetapi nanti kalau terendam lagi akan menambah ongkos produksi," katanya.

Sungai Kedungbener Meluap, Krakal Kebanjiran

banjir
KEBUMEN, suaramerdeka.com - Hujan deras yang melanda kawasan hulu mengakibatkan Sungai Kedungbener, Kebumen meluap, Selasa (10/1) sore. Bahkan luapan sungai sampai menggenangi sejumlah ruas jalan di Kecamatan Alian.
Dari pantauan Suara Merdeka di lapangan, ruas jalan yang tergenang antara lain dua titik jalan di Desa Krakal dan satu titik di timur balai Desa Krakal. Air menggenangi jalan sepanjang 100 meter dengan ketinggian hingga satu paha orang dewasa. Banjir juga merendam jalan penghubung ke Desa Plumbon.
Kasimin (63) warga Desa Krakal mengatakan, hujan turun mulai pukul 14.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Hingga pukul 16.00 WIB, air masih belum surut. "Ini adalah banjir yang terbesar selama musim penghujan tahun ini," ujar Kasimin.
Tahun 2010 lalu, tutur Kasimin, pernah terjadi banjir bandang di Sungai Kedungbener. Saat itu rumahnya sampai terendam banjir sampai 90 cm. "Tahun 1990-an juga pernah banjir besar," ujar Kasimin seraya berharap adanaya penangan agar Desa Krakal tidak menjadi langganan banjir.
Sementara itu, air bah juga menggenangi ruas jalan di Desa Kalirancang. Akibatnya, warga yang berkendara dari arah Desa Sruni menuju ke Krakal atau sebaliknya, harus memutar melalui Desa Kalijaya. Namun begitu, ada pula warga yang nekat melintas meski banjir cukup dalam menggenangi jalan.
Selain banjir, Jalan Wadasmalang-Krakal tepatnya di Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung juga tertimbun tanah longsor. Akibatnya, jalur tersebut sempat tidak bisa dilewati. Beruntung, warga langsung bergotong-royong menyingkirkan material longsoran hingga bisa segera dilewati.

Erosi, DAS Luk Ulo Kritis

KEBUMEN - Daerah Aliran Sungai (DAS) Luk Ulo sudah dalam kondisi kritis. Selain mengikis lahan pertanian, erosi di DAS tersebut menerjang pemukiman warga baik di hulu hingga hilir sungai.

Pemetaan erosi di DAS Luk Ulo pernah dilakukan oleh Puguh Dwi Raharjo dan Saifudin peneliti Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pemetaan dilakukan tahun 2008 di DAS Luk Ulo hulu yang meliputi sub DAS Loning, Maetan, Medono, Lokidang, Cacaban, Gebang dan Welaran.
Dengan kajian menggunakan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografi, diketahui tingkat erosi sangat berat di DAS Luk Ulo hulu sekitar 1399.518 hektare dan erosi berat sekitar 1564.231 hektare. Hal ini menunjukkan, sebagian wilayah dalam DAS Luk Ulo hulu sudah mempunyai tingkatan erosi kritis.

Daerah dengan tingkat erosi sangat berat terdapat di sekitar Desa Wadasmalang, Langse, Wonotirto, Kalibening, Pesangkalan, Kebutuhjurang, Seboro, Pagedangan, Gunungjati, Kebondalem, Duren, Lebakwangi dan Kedunggong. Sedangkan tingkat erosi berat paling banyak ditemukan di Desa Giritirto, Pesangkalan, dan tersebar merata pada DAS dengan luasan yang kecil.

Tingginya tingkat erosi di DAS Luk Ulo terlihat dari sedimen-sedimen yang dihasilkan. Proses terkikisnya dan terangkutnya tanah oleh media alami yang berupa air memberikan sedimentasi yang tinggi pada sungai dan terendapkan membentuk poin bar-poin bar.

Mendominasi DAS

Erosi ini dapat mempengaruhi produktivitas lahan yang biasanya mendominasi DAS bagian hulu dan dapat memberikan dampak negatif pada DAS bagian hilir yakni sekitar muara sungai yang berupa hasil sedimen.
Secara administrasi, DAS Luk Ulo berada di tiga kabupaten. Yakni Kebumen, Banjarnegara, dan Wonosobo. DAS Luk Ulo mempunyai anak-anak sungai antara lain Kali Kating, Sentol, Kedungbener, Gebang, Cacaban,  Mondo, Cangkring, Loning dan Maetan dengan luas 675,53245 km2. Adapun yang masuk wilayah Kebumen seluas 572,84365 km2.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Forum-DAS) Kebumen M Sudjangi membenarkan kondisi itu. Kerusakan DAS Luk Ulo dipicu oleh perubahan tata guna lahan akibat naiknya tingkat kebutuhan hidup manusia serta lemahnya penegakan hukum. Perubahan bentuk lahan berpengaruh terhadap kondisi tanah, tata air (hidrologi), potensi bahan tambang, potensi bencana seperti banjir, erosi, dan longsor lahan, dan vegetasi.

Tiga Rumah Hancur Diterjang Longsor

KEBUMEN- Tiga rumah di Desa Muktisari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen hancur diterjang longsor. Tidak ada korban jiwa menyusul ambrolnya tebing Sungai Luk Ulo yang mengenai rumah berderet tersebut.
Rumah milik Suripto (56), yang dihuni oleh 4 orang itu telah dikosongkan sebelumnya. Pegawai Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos) Kabupaten Kebumen itu pindah ke tempat saudaranya. Begitu juga rumah milik Marsono yang dihuni 7 orang, yang terdiri atas 3 KK, pindah ke rumah tetangga.

Satu rumah lagi yang hancur, hanya terbawa longsoran pada bagian belakang. Penghuni rumah tersebut, Sukardi (74), beserta istrinya, masih memanfaatkan bangunan rumahnya yang tersisa di bagian depan. “Ini pun kami sudah berancang-ancang untuk mengungsi,” kata Sukardi.
Dia yang tidak memiliki tempat tinggal lain itu mengaku akan mengungsi ke rumah anaknya yang masih berada di satu desa tersebut. Rumahnya yang hancur itu membuatnya sedih. Selama puluhan tahun, ia sudah menempati rumah itu. Sebelum berulangkali terjadi longsor, pada bagian belakang rumahnya masih terdapat pekarangan yang berjarak 70 meter, dari tebing Sungai Luk Ulo ke pondasi belakang rumahnya. Di pekarangan tersebut terdapat rerimbunan pohon.
Kini, menyusul erosi sungai berkelok-kelok tersebut, tidak hanya pekarangan beserta pohon yang lenyap, tetapi mengenai rumah Sukardi dan dua tetangganya. Wahyu (35), salah satu anak  Marsono, pemilik rumah yang hancur itu mengaku hanya pasrah menghadapi kenyataan pahit tersebut. Terpaksa ia bersama keluarganya numpang di rumah tetangga.
Menurut Duhri (66), warga Muktisari, kejadian longsor yang berlangsung pada Rabu (4/1) dini hari lalu itu akibat penambangan pasir yang dilakukan secara terus menerus di Sunngai Luk Ulo. Selain itu juga penambangan tanah liat di tebing sungai tersebut.

Lowongan

 

© Copyright Ayo Ke Kebumen Januari 2012 | Design by Santo Zaq | Published by Ayo Ke Kebumen | Powered by Blogger.com.